
Klasifikasi
- Kingdom
- Plantae
- Divisi
- Tracheophyta
- Kelas
- Magnoliopsida
- Ordo
- Lamiales
- Famili
- Acanthaceae
- Genus
- Strobilanthes
- Spesies
- Strobilanthes crispus
Definisi Umum
Pecah beling (Strobilanthes crispus) merupakan tanaman perdu dari famili Acanthaceae yang banyak tumbuh di kawasan tropis, termasuk Indonesia dan Malaysia. Tanaman ini memiliki tinggi sekitar 0,5–1 m dengan batang bercabang, daun berbentuk lonjong hingga lanset, berpermukaan kasar, serta memiliki tepi bergerigi. Di Indonesia, tanaman ini dikenal dengan berbagai nama daerah, seperti keji beling, enyoh kelo, kecibeling, dan picah beling. Secara tradisional, daun pecah beling telah lama dimanfaatkan sebagai obat herbal untuk membantu meluruhkan batu saluran kemih, mengatasi diabetes, wasir, serta berbagai gangguan peradangan. Seiring berkembangnya penelitian, tanaman ini diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan (Sukendi et al. 2025; Amin 2024).
Kandungan
Daun pecah beling mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, antara lain flavonoid, senyawa fenolik, alkaloid, saponin, tanin, terpenoid, fitosterol, katekin, polifenol, glikosida, serta beberapa asam lemak. Selain itu, telah diidentifikasi pula senyawa bioaktif seperti rutin, epikatekin, mirisetin, luteolin, apigenin, naringenin, kaempferol, dan asam silikat. Kombinasi senyawa-senyawa tersebut berperan dalam berbagai aktivitas biologis, terutama sebagai antioksidan dan antiinflamasi (Sukendi et al. 2025; Amin 2024).
Khasiat
Pecah beling (Strobilanthes crispus) memiliki berbagai khasiat yang berasal dari kandungan senyawa bioaktif di dalamnya. Tanaman ini berpotensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, dan antidiabetes. Selain itu, pecah beling juga dikenal dapat membantu menghambat pembentukan batu saluran kemih (antiurolithiasis), mempercepat penyembuhan luka, serta memiliki aktivitas antihiperlipidemia dan sitotoksik terhadap beberapa jenis sel kanker. Berbagai manfaat tersebut berkaitan dengan kandungan flavonoid, polifenol, alkaloid, saponin, dan senyawa metabolit sekunder lainnya yang terdapat pada daun pecah beling (Ooi dan Muhammad 2013; Amin 2024; Sukendi et al. 2025).
Cara Pengolahan
Daun pecah beling umumnya dimanfaatkan dalam bentuk rebusan, teh herbal, simplisia, maupun ekstrak. Daun segar dicuci hingga bersih menggunakan air mengalir, kemudian diiris tipis dan dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di tempat teduh atau menggunakan oven pada suhu sekitar 40–50°C hingga kadar airnya rendah. Daun yang telah kering dapat digiling menjadi serbuk simplisia dan disimpan dalam wadah tertutup agar mutu serta kandungan senyawa aktifnya tetap terjaga. Simplisia tersebut dapat diseduh sebagai minuman herbal atau digunakan sebagai bahan baku pembuatan ekstrak (Sukendi et al. 2025).
Daftar Pustaka
Amin A. 2024. Review: Phytochemical Constituents and Pharmacological Activity of Strobilanthes crispus. Medical Sains: Jurnal Ilmiah Kefarmasian. 9(4):895–904. Sukendi Y, Rafi M, Silviani D, Wahyuni WT. 2025. Traditional Uses, Biological Activities, and Phytochemical Profile of Keji Beling (Strobilanthes crispus) Leaf Extract: A Review. Jurnal Jamu Indonesia. 10(1):40–48. Ooi KL, Muhammad TS. 2013. Phytochemistry, Pharmacology and Toxicology Properties of Strobilanthes crispus. International Food Research Journal. 20(5):2045–2056.
Navigasi Tanaman Herbal
Tanaman Herbal Sebelumnya
Tanaman Herbal Selanjutnya
